Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT Yang Maha Menjaga segala urusan, Yang Maha Mengetahui setiap yang tersembunyi maupun yang tampak. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan kejujuran yang tak tergoyahkan, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang berpegang teguh pada kebenaran hingga akhir zaman.

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah SWT,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya takwa adalah benteng paling kuat bagi kita dari segala perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Jamaah rahimakumullah,
Pada hari yang mulia ini, mari kita renungkan bersama satu perbuatan yang sangat dibenci Allah, merusak tatanan masyarakat, dan menghancurkan kepercayaan sesama, yaitu SUAP DAN PERDAGANGAN JABATAN.
Banyak orang mengira jabatan adalah hak milik pribadi yang bisa diperjualbelikan, diminta dengan imbalan, atau diberikan kepada siapa saja yang memberi keuntungan. Padahal, setiap jabatan—baik di pemerintahan, lembaga masyarakat, maupun organisasi—adalah AMANAH MURNI dari Allah SWT yang dititipkan melalui kepercayaan rakyat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 161:
“Dan tidaklah patut bagi seorang nabi untuk berbuat curang. Barangsiapa berbuat curang, niscaya ia akan membawa apa yang dicurangkannya itu pada hari kiamat, kemudian setiap jiwa akan dibalas sempurna terhadap apa yang dikerjakannya, sedang mereka tidak akan dirugikan.”
Dan dalam Surah Al-Baqarah ayat 188, Allah memperingatkan:

“Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu menawarkan (memberi) suap kepada hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
Rasulullah SAW bahkan bersabda dengan tegas dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi:
“Laknat Allah menimpa orang yang memberi suap, orang yang menerima suap, dan orang yang menjadi perantaranya.”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Suap jabatan adalah bentuk pengkhianatan paling nyata:
– Mengkhianati Allah: Kita memutarbalikkan ketentuan-Nya demi keuntungan duniawi semata;
– Mengkhianati Amanah: Jabatan yang seharusnya dipakai melayani rakyat, justru dijadikan barang dagangan;
– Mengkhianati Masyarakat: Orang yang cakap, jujur, dan bekerja keras tergeser oleh mereka yang kaya atau berani memberi imbalan;
– Mengkhianati Diri Sendiri: Kita menukar kenikmatan surga dengan kesenangan sesaat yang kelak akan menjadi penyesalan yang tak berkesudahan.

Di tanah Bangka Belitung yang kita cintai, budaya kita sangat menjunjung tinggi kejujuran, setia kawan, dan gotong royong. Suap jabatan merobek tatanan itu semua. Ia melahirkan kecemburuan, merusak kinerja pelayanan, menghambat pembangunan, dan menjauhkan berkah Allah dari daerah kita. Sebagaimana bangunan yang pondasinya busuk, maka tak lama lagi ia akan runtuh menimpa penghuninya.

Jamaah yang berbahagia,

Tidak ada kebahagiaan yang tumbuh dari harta hasil suap atau jabatan hasil tawar-menawar. Harta itu akan habis, jabatan itu akan lepas, namun dosa dan aibnya akan melekat hingga ke alam kubur. Allah akan mencatat setiap senyum yang terjalin karena imbalan, setiap janji yang ditepati karena uang, dan setiap hak orang yang terampas karena suap.

Maka, mari kita berjanji pada diri sendiri:
✅ Jangan pernah meminta jabatan dengan imbalan apa pun;
✅ Jangan pernah memberikan sesuatu agar diangkat atau dipertahankan pada suatu posisi;
✅ Jika diberi kepercayaan, laksanakan dengan tulus, adil, dan mengutamakan kepentingan bersama;
✅ Berani berkata tidak terhadap tawaran yang merusak kejujuran, meski keuntungan itu terlihat besar.
Mari kita jaga bersama kesucian amanah di daerah ini. Jadikanlah kejujuran sebagai harga mati, karena hanya dengan kejujuranlah Allah akan melimpahkan keberkahan, persatuan, dan kemajuan yang abadi bagi kita semua.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari keserakahan, menjauhkan kita dari segala bentuk suap dan tipu daya, serta menjadikan kita hamba-Nya yang menjaga amanah dengan sebaik-baiknya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Barakallahu lii wa lakum fil qur’anil ‘adzim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fiih minal aayati wa dzikril hakim. Aqulu qauli hadza wa astaghfirullaha li wa lakum wa lisairil muslimina wal muslimat, fastaghfiruh innahu huwal ghafurur rahim.
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Menguasai hati dan perbuatan manusia. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Adil, dan Nabi Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya yang paling jujur.

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah SWT, dan menyadari bahwa setiap perbuatan—termasuk niat hati—akan diperhitungkan dengan sangat teliti.

Mari kita berdoa dengan rendah hati:

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari sifat tamak, serakah, dan cinta dunia yang berlebihan.
Ya Allah, jauhkanlah kami, keluarga kami, para pemimpin kami, dan seluruh masyarakat Bangka Belitung dari segala bentuk suap, pungutan liar, dan perdagangan jabatan.
Ya Allah, berilah kami petunjuk untuk selalu memilih jalan kejujuran, meskipun jalan itu terasa berat.
Ya Allah, luruskanlah niat para pemimpin dan pejabat kami, agar mereka menjalankan tugas semata-mata mencari ridho-Mu dan mengabdi kepada rakyat.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

By